Kamis, 15 September 2016

Akhirnya Kerja Juga

Yeah!!! Akhirnya saya kerja juga!! Wuhuuuu!! Mantap! Hehehe. Jadi gini ceritanya, semakin hari semakin merasa tertekan karena belum dapat kerja juga. Walaupun orang tua tidak memaksa, karena saya anak tunggal, jadi cenderung dimanja, bagaimanapun juga nggak enak. Sudah setahun lebih lulus kuliah kok masih belum dapat kerja tetap. Banyak orang cuma bisa komentar tanpa memberi solusi. Orang-orang ngehek lah kayak gitu. Bisanya hanya komentar ini itu. Saya harus begini begitu, nggak usah banyak omong cukup kasih saya kerjaan juga kelar, nggak usah banyak omong kalau tidak bisa kasih solusi! Huh! Malah jadi ngalur ngidul ceritanya. Okay, lanjut kembali, waktu tidur saya bermimpi tentang McDonald. Ceritanya entah mengapa saya ada di McDonald tapi bukan sedang membeli makanan tapi seperti bentuk kantor gitu. Pas kebangun, saya merenungi kembali, jangan-jangan ini petanda bahwa saya harus kerja di Mcdonald. Mungkin saja saya akan seperti SpongeBob kerja di restoran makanan siap saji. Lalu siang harinya pada tanggal 4 September 2016 saya buka akun pencari kerja J*bstr**t, saya cari kata kerja “McDonald” dan ternyata ada lowongan! Mantap nih dalam hati. Udah gitu lowongannya MT pula, yaudah saya masukin saja. Terus tertulis dibagian bawahnya jika berminat bisa langsung mengantarkan CV ke kantor yang ada di daerah Kelapa Gading, harus disertai posisi yang diinginkan dipojok kiri atas. Okay, saya minat. Saya akan melamar ke perusahaan ini. Walau gitu saya tetap mencari dengan kata kunci “management trainee” dan keluar banyak sekali, seperti semburan pas c*** hihihi. Saya masukin saja lamaran yang memberikan lowongan MT, ada banyak, saya pilih-pilih juga, nggak mau sembarang masukin. Eh tiba-tiba kepikiran untuk mencari berdasarkan nama perusahaan. Saya ketik saja “KOI” dan ternyata ada lowongan juga, MT untuk penempatan Soekarno Hatta. Yaudahlah, sudah nggak mikir lagi mau di mana, masukin saja.

Singkat cerita, lalu saya siapkan berkas-berkas penting dan tidak lupa membeli amplop cokelat, amplop yang mencirikan seorang pencari kerja hehe. Pas di warung tempat jual alat-alat perkakas tulis, entah mengapa saya ingin membeli dua bukannya satu. Yaudahlah nggak penting juga alasan kenapa beli dua bukan satu, pokoknya kepengen aja. Sampai di rumah saya memilah-milah berkas yang akan saya masukkan ke amplop, tidak lupa dibagian kiri atas diharuskan tertulis posisi yang diinginkan –dalam hal ini lamaran ke McDonald. Ketika sudah selesai, saya berniat untuk mengantarkan lamaran ini esok harinya. Namun karena ada halangan atau karena malas gitu saya menunda-nunda. Saya akan mengantarkan esok harinya lagi yaitu hari Selasa. Dan pas hari Selasa lagi-lagi saya malas untuk mengantarkannya. Ketahuanlah ya saya tidak dapat kerja selama ini karena apa, karena malas bukan karena tidak berkompeten atau hal lainnya. Biar bagaimanapun malas juga kemewahan. Bisa malas itu kenikmatan tiada tara. Anda sanggup untuk melakukan sesuatu tapi anda malas, anda memilih untuk tidak melakukannya bukan karena anda tidak bisa tapi murni karena anda tidak mau untuk bergerak, karena malas! Jelas kan malas itu kemewahan. Okay, lanjut kembali, ketika hari Selasa saya memutuskan hari Rabu saja saya kirim. Toh tinggal kirim doang kan. Nah ketika hari Rabu telah datang, saya mendapatkan sms untuk mengikuti sesi wawancara tanggal 8 September 2016 di Plaza Kedoya untuk MT dari KOI Cafe. Wah kebetulan banget nih belum ngirim lamaran ke McDonald, ternyata Tuhan menggiring saya untuk masuk kerja ditempat lain hehe. Kebetulan lagi saya membeli amplop cokelatnya dua, jangan-jangan memang ini petanda dari Tuhan. Dia telah menjawab doa-doa saya selama ini. Dan ya, saya memilih untuk mengikuti wawancara di KOI Cafe dan tidak mau lagi repot-repot mencari kerja. Saya ambil saja yang ada di depan mata.
 
Wawancara saya dengan interviewer berjalan lancar. Tapi ada sedikit kesalahan-kesalahan yang saya buat seperti salah hitung angka perkalian desimal dan tidak bisa memperkanalkan diri dalam bahasa Inggris. Sedih banget dalam hati, selama ini saya ngapain saja hingga memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris saja saya tidak bisa. Ketika semua ini selesai, tanggal 13 September 2016 saya mendapatkan email berisi kontrak kerja. Wah senang sekali, akhirnya saya kerja juga. Setelah setahun lulus, akhirnya kerja tetap juga. Bisa bayar hutang, bisa beli barang yang diinginkan, bisa menabung, apalagi kalau punya pacar bisa jalan sama pacar tapi sayangnya belum punya. Saya yakin sekali pada akhirnya saya juga akan punya pacar hingga nikah nanti hehehehe. Setelah menandatangi kontrak dan mengirimkan balik hasil scan-an. Jadilah saya akan memulai kerja pada tanggal 19 September 2016. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah menjawab doa-doa saya selama ini. Saya akan bekerja sebaik mungkin demi menggapai cita-cita. Salam sejahtera bagi yang membaca tulisan saya ini, itu pun kalau ada, nggak ada yang baca pun bodo amat, yang penting saya puas telah menuangkan apa yang ada dipikiran saya ke dalam tulisan singkat ini. Intinya jangan menyerah, semangat terus, kejar terus keinginan, hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha, hanya orang-orang pengecut yang banyak mengeluh ini itu tapi usaha tidak maksimal. Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari orang-orang sukses, mereka melampaui batas diri mereka menuju tak terhingga. Itulah motivasi saya, menuju tak terhingga dan melampauinya seperti ucapan Buzz Lightyear “To infinity and beyond!”

Sabtu, 03 September 2016

Pengangguran



            Setahun tiga bulan sudah saya lulus dari kuliah, namun apa yang saya dapat hingga sekarang? Ilmu? Iya saya mendapatkannya. Pengalaman? Benar saya juga mendapatkannya. Pekerjaan? Itu yang belum saya dapatkan –kecuali pekerjaan sambilan/paruh waktu. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Bukankah saya lulusan dari universitas ternama? Saya pun bingung dengan diri saya sendiri. Apa yang menyebabkan hingga sampai saat ini belum mendapatkan pekerjaan. Banyak analisa yang saya buat sendiri, mulai dari CV yang kurang/tidak menarik, gagal diwawancara, memilih-milih pekerjaan, hingga yang paling nyeleneh saya pikir saya memiliki penghalang (semacam ada gangguan ghaib yang terjadi pada saya). Konyol memang, jika dibilang malu jelas malu. Sudah setahun lewat masih belum mendapatkan pekerjaan. Namun itu fakta. Saya tidak dapat menyembunyikannya. Saya terlanjur malu hingga malas bertemu siapapun. Orang tua saya begitu kasihan, sudah mengurus anaknnya hingga lulus kuliah namun belum dapat kerja, lagi-lagi bergantung kepada orang tua. Semoga Tuhan memberikan kesehatan serta umur yang panjang untuk mereka.
            Lantas apa menjadi penyebabnya? Entahlah, saya begitu malas mengulik-ngulik penyebabnya. Mungkin saja ini cobaan dari Tuhan agar saya tidak sombong jadi orang (setidaknya itulah yang saya rasakan, sombong). Atau mungkin Tuhan marah dengan saya akibat dari perbuatan yang saya lakukan dulu. Saya tidak ingat pernah melakukan hal yang menyebabkan seperti ini, kecuali semesta memiliki cara kerja yang saya tidak ketahui, memang tidak saya ketahui. Muak dengan hidup ini jika boleh jujur. Eneg, kenapa orang kok sepertinya mudah sekali menjalaninya. Ya ya ya, lagi-lagi saya mengeluh. Bodo amatlah, mau mengeluh mau enggak, mau bunuh diri pun nggak ada yang peduli. Saya jahat. Mungkin saja. Saya kejam. Bisa jadi. Tergantung perspektif apa yang anda gunakan. Kadang saya merasa Tuhan tidak adil dengan hamba-Nya. Kadang-kadang ya bukan tiap kali. Ada alasan tersendiri menyebutnya begitu. Ah sudahlah, percuma juga. Mau mengeluh seperti apapun tidak akan mengubah nasib.
            Terus bagaimana dong? Saya tidak tahu. Usaha sudah. Minta tolong sudah. Sampai malu menceritakan keadaan saya kepada teman hanya untuk mendapatkan simpatik, semoga dia mau mencarikan jalan keluar. Dalam hal ini saya berharap “teman” saya mau memberikan pekerjaan juga tidak dapat menolong. Benar-benar ya, setelah lulus memang harus berjuang sendiri. Mau minta tolong seperti apapun tidak ada yang mau. Memang kalau lagi susah orang menjauh –termasuk saya sendiri juga menjauh karena malu. Mungkin mereka takut kalau-kalau saya menyusahkan mereka. Sudahlah. Memang sudah begini adanya. Intinya memang kalau belum mendapatkan pekerjaan membuat stress. Benar-benar membuat stress. Sebelum tidur kepikiran belum dapat kerja. Begitu juga pas bangun tidur. Ah ngehek memang! Bangsat! Susah banget dapat kerja. Semoga saya diampuni Tuhan karena tidak jarang sering menyalahkan Dia atas keadaan saya ini.
            Ya Tuhan, saya memohon ampun atas segala kesalahan saya, segala perbuatan yang pernah saya lakukan baik yang saya lakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Baik yang saya ketahui maupun tidak ketahui. Semoga Engkau mau memaafkan hamba-Mu ini. Semoga Engkau memaafkan keluh kesah saya dengan menulis cerita ini. Maafkan saya hamba-Mu yang lemah ini. Sesungguhnya saya hanya menyakiti diri sendiri, mendzolimi diri sendiri. Ampunilah saya. Amin ya Robal alamin. Semoga saya cepat dapat kerja, AMIN!

Jumat, 01 Januari 2016

Album Kenangan



Tak terasa tahun 2015 telah berlalu dan tahun 2016 datang menyambut. Sudah lebih dari enam bulan sejak masa kuliah berakhir. Seiring itu pula perjalanan berakhir. Terlambat jika masih ingin menikmati masa-masa itu. Tidak ada kata menyesal untuk semua hal yang dilalui, walau tidak semuanya berakhir indah. Yang disesali hanyalah tidak pernah melakukan hal yang diingini padahal kesempatan itu ada. Kini, tidak sempat lagi melihat ke belakang. Dua mata diciptakan di depan wajah, guna melihat ke depan. Sisa-sisa masa lalu biarlah menjadi kenangan. Kenangan yang mungkin saja terlupakan. Kiranya lupa adalah kebiasaan alami manusia, siapapun dapat terkena lupa. Melupakan, baru hal yang manusia usahakan, agar tidak mengingat hal yang mungkin saja buruk.

Hari-hari terasa semakin asing, hingga diri tidak lagi langsing. Semua baru, bahkan harus belajar lagi. Proses yang dulu dijalani, menjadikan memorabilia kognisi untuk mencoba pengalaman baru. Katakan selamat tinggal untuk masa lalu, tatap masa depan untuk menggapai impian. Kenangan yang sudah saatnya dilupakan atau lebih baik ditidurkan, biarkan dia hidup tenang dalam album kesunyian. Album yang nikmatnya dibuka ketika umur 40-50 tahun. Jangan ada lagi kesalahan, biar kesalahan dijadikan pengalaman. Saatnya langkah kaki berganti, kanan kiri berjalan bergantian. Langkah kecil yang akan menjadi besar, seumpama waktu berputar. Selamat tinggal dan sampai jumpa dilain waktu, kiranya kita akan berjumpa untuk waktu yang lama.

Rabu, 21 Oktober 2015

Tentang Nama

Apalah arti sebuah nama. Kalimat ini seringkali terdengar maupun terucap. Terutama setelah Shakespeare menulis dalam karyanya (What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet). Kalimat itu merupakan dialog Romeo dengan Juliet saat membahas kisah cinta mereka. Romeo mempertanyakan, apa arti nama Capulet (nama keluarganya) yang justru membuat perselisihan. Berpaling dari itu, nama merupakan identitas yang disematkan. Tidak perlu bersusah payah berdebat tentang nama. Adalah nama Rovers yang saya sematkan sebagai nama belakang. Mengapa Rovers? Bukan tanpa sebab saya menggunakan nama itu. Dahulu, sekitar tahun 2009, ketika booming Facebook, saya mengikuti trend tersebut setelah Friendster mulai terlupakan. Malam harinya saya ke warnet hanya untuk sekadar membuat akun Facebook. Saat membuatnya, ada hal yang memberatkan hati. Setiap pembuat akun baru diharuskan memiliki nama depan dan belakang. Sedangkan saya hanya memiliki satu nama, yaitu Antoni. Setelah berkutat dalam pikiran mengenai nama yang cocok dan tidak norak secara berlebihan (pada waktu itu belum ada kata alay), awalnya saya ingin membuat dengan nama “Antoni Doank”, namun nama itu mirip dengan nama Dik Doank dan terkesan aneh. Lalu saya berganti menjadi “Antoni Saja”, namun nama tersebut tidak enak didengar dan tidak srek sesuai hati. Setelah itu saya teringat perkataan teman, jika ingin membuat nama panggung harus keinggris-inggrisan. Setelah dipikir-pikir, sekilas teringat nama klub sepakbola di Inggris, dan saya pikir itu tidaklah buruk. Kemudian, timbullah nama Rovers tersebut. Pada akhirnya saya menambahkan nama belakang saya sendiri dengan nama Rovers. Ya mungkin terdengar aneh dan norak tapi tak apa, selama cocok dan enak didengar ketika diucapkan, hal tersebut tidak masalah. Beberapa tahun kemudian, saya iseng mengetik nama Rovers di internet dan hasilnya cukup mengejutkan. Dalam bahasa Inggris, Rover artinya penjelajah, pengelana. Itulah sebabnya modul antariksa yang digunakan dalam menjelajah planet Mars disebut Rover (Curiosity Rover). Begitu pula nama mobil Land Rover, merk mobil mahal dan terkenal karena kehebatannya dalam melintasi medan berat. Hahaha, entah kebetulan atau tidak, semoga nama tersebut memberi efek yang baik. Nama adalah doa, mudah-mudahan dengan nama yang baik, menjadikan orangnya baik pula hehe.